A Year in Books - When Breath Becomes Air


Source : Amazon

Buku ini adalah salah satu reading list bulan Juni. Sejujurnya, saya membutuhkan waktu yang agak lama untuk menyelesaikan buku ini. This book does not use a common language. Banyak istilah dan jokes ala-ala dokter atau dunia medis. Dan dari buku ini saya jadi sedikit mendapatkan gambaran  kalau ingin menjadi dokter yang se-expert itu membutuhkan pengorbanan hidup yang luar biasa (yaiyalah). Dan satu lagi, jika memiliki pasangan hidup seorang dokter juga butuh kesabaran yg luar biasa.

In a nutshell : Dr. Paul Kalanithi's memoir tentang menemukan makna kehidupan dan perjuangan hidup beliau saat menderita kanker paru-paru dan meninggal diumur 37 tahun. 

Paul Kalanithi adalah seorang ahli bedah saraf yang sangat jenius. Graduated from Stanford University with a BA and MA in English literature and a BA in human biology. Dia juga mendapatkan MPhil in history and philosophy of science and medicine dari University of Cambridge dan lulus cum laude dari Yale School of Medicine. Makanya tidak perlu diragukan lagi betapa jeniusnya beliau. Not an average type of doctor, paham filsafat dan ilmu medis membuat beliau yakin untuk mengabdikan diri menjadi ahli saraf. What makes life meaningful enough to go on living? 

Setiap orang memiliki definisi sukses yang berbeda. Begitu juga dengan Paul Kalanithi, yang mengabdikan semua masa muda untuk melakukan riset, dll demi bekal di masa tua. Semuanya menjadi nighmare ketika beliau merasakan ada sesuatu yang berbeda didalam tubuhnya. Ternyata dokter itu juga manusia ya! He knew there was something not right but too scared to know the fact. Titik dimana rumahtangga nya pun hampir hancur karena sibuk tak menentu yang menyebabkan lack of communications. Sejujurnya menurut saya ini adalah part paling romantis dibuku ini. Saat beliau berusaha untuk tidak memberitahu istrinya tentang kanker dan pasrah dicerai dalam keadaan sakit (ini bener-bener sedih sih). Tapi yang namanya jodoh emang gak kemana sob, istri beliau yang seorang ahli medis juga mengetahui penyakit Paul Kalanithi dari teman mereka. Moment ini benar-benar sedih, saat mereka ketemu dan Paul langsung mengeluarkan air mata dan pelukan. Pokoknya ini kayak adegan ala-ala FTV yang sedih baper. hehe.

Menderita kanker diumur yang sangat muda (dude, 37 tahun!) pasti super stress sih. Apalagi untuk tipikal orang yang sudah bikin plan hidup se-perfect mungkin. Beliau juga pernah marah kepada Tuhan, "I work my whole life to get to this point, and then you give me cancer?" Hidup memang tidak bisa ditebak.


Seperti biasa, beberapa part yang memberikan good insight berdasarkan opini pribadi adalah : 
Even if you are perfect, the world isn't
Manusia memang tidak ada yang sempurna. Buku ini banyak bercerita tentang betapa tidak sempurnanya manusia terhadap takdir Tuhan. "Our patients' lives and identities may be in our hands, yet death always wins". You can't ever reach perfection, but you can believe in an asymptote toward which you are ceaselessly striving. Karena takdir Tuhan tidak ada yang tahu, sebagai manusia kita tidak boleh berhenti berjuang.

Someone who knew when to push and when to hold back
Saat berada di titik terendah dalam hidup (mentally), secara tidak sadar kita butuh sosok yang compassionate. Orang yang tau kapan harus keras dan justru sebaliknya. Menjadi pasien dan mengikuti semua prosedur medis yang tentunya secara teori beliau sudah paham 100%. Hasil MRI yang bahkan tidak butuh dibacakan lagi oleh seorang dokter. Sabar dan ikhlas menjadi pasien dari temen sendiri. Menerima kenyataan setiap dokter memiliki metode dan style yang berbeda. Ikhlas menjadi pasien. Pasien yang patuh kepada dokter (and it was not easy, just because he's too genius)

They are 5 stages of grief : Denial, Anger, Bargaining, Depression, Acceptance
Buku ini memberikan insights yang hampir sama dengan beberapa buku yang pernah saya review sebelumnya. (haha yup lately this kind of books are relatable for me LOL!) . Sama seperti buku sebelumnya, untuk terlepas dari accute grief, kita harus melewati 5 tahapan tersebut. Jadi jangan pernah baper dan stress dulu kenapa kayaknya perasaan sedih dan trauma gak hilang-hilang. Mungkin saja kamu belum melewati semua tahapan itu. Sabar ini ujian (HAHAHA).

Buku ini adalah satu-satu nya memoir yang pernah saya baca dan isinya lebih banyak sedih daripada lelucon. Bukan masalah kematian, tapi seberapa jauh kita mampu menghargai hidup yang sedang kita jalani. Pejuangan untuk mencari makna dalam hidup. Setiap orang akan memiliki tujuan dan makna hidup yang berbeda, tergantung bagaimana points of view setiap individu. Once you got cancer and then the next second in your life will have a different value. Banyak bersyukur dan berusaha untuk memaksimalkan potensial yang ada. Jangan sampai mati sia-sia toh!

Ending bukunya juga sangat klimaks. Paul meninggal dengan penuh keberanian. Memutuskan untuk mencabut semua alat bantu medis yang menempel ditubuhnya. Baca bukunya aja udah berlinang air mata rengginang :((( You asked your friend to give you morfin and ready to die. He really learned how to die. 

Thanks you for reading this book's review. This book is one of NYT best seller and has a good rating on every book-reading-platform. You should give a try. After read this book, you will see life in different way. Especially if you are a doctor, maybe you SHOULD read it. 

Happy reading all.

Love,

Novella

No comments:

Post a comment

Instagram