A Year in Books - Designing Your Life

Source : Amazon

Buku ini adalah salah satu reading list bulan Juni. Seharusnya blogpost ini udah on air (ceilah) awal Juli kemaren. Kebiasaan menunda pekerjaan dan dampaknya malah baru bisa ditulis malam ini dibulan Agustus. Hahaha pathetic life, that's why I chose this book for June's reading list. 


Lately I was really confused about life, about future and even rite now (haha). And suddenly, amazon just sent me their marketing-email-heleluyah! Serba kebetulan saat buka email marketing dari Amazon, ada beberapa list buku yang mereka kirim dan salah satunya adalah buku ini. Setelah kepo sana-sini lewat Google ternyata kayaknya worth-it untuk dibaca ditengah galau hidup yang mau dibawa kemana. Dan voila, memang benar-benar worth-it. Banyak perspektif baru yang didapatkan dari buku ini. 

Author : Bill Barnett dan David Evans adalah profesor di Stanford yang mengajar kelas "Designing your life". Gokil, ada ya kelas kayak begitu. Harusnya dulu pas dikampus ada kelas begini juga. Kalau tidak salah memang ada kelas umum sejenis psikologi yang rata-rata alasan orang mengambil kelas ini karena tugasnya gampang dan A-able. Haha (we were just tired with all calculus and engineer stuff). Mereka berdua memiliki latar belakang Product Design yang udah super hype banget di Sillicon Valley. Jadi buku ini bukan sekedar teori motivasi atau quote belaka, banyak ilmu product design dan system thinking yang bisa dipelajari. 

In a Nutshell : Intinya, buku ini mencoba untuk mengaplikasikan design thinking untuk merancang hidup yang lebih baik lagi. Beruntung dan kebetulan saya bekerja di tech-company, ketika membaca buku ini jadi mikir dua kali. Kenapa gak kepikiran untuk menerapkan semua teori yang dipelajari di Product team ke real life. Terdengar klise banget sih, tapi ketika baca buku ini jadi ketawa sendiri. Mirip banget sama apa yang dikerjakan oleh seorang product designer. Buku ini mengajarkan kita untuk tidak takut merubah hidup yang bawaannya udah super boring ke tahap yang kita impikan selama ini. Tidak ada kata terlambat untuk mendesain hidup yang lebih baik. 

Fun Fact : Surprisingly, ternyata di Stanford kelas yang menjadi favorite mahasiswa bukan   Computer Science tapi Designing Your Life. Haha agak kaget juga sih pas baca informasi nya dari fastcompany dot com. Hikmah yang bisa diambil adalah, you're not alone. Semua orang pernah berada di tahap yang tidak jelas hidup ini mau dibawa kemana. We need to enjoy the process, you are not alone, I am not alone. HAHAHA.

Seperti biasa di setiap book review di postingan sebelumnya, beberapa perspektif yang saya suka adalah :

Designer love questions, but what they really love is reframing question 
Menurut beliau2 itu, mind-set haqiqi seorang designer adalah reframing. Jangan pernah mulai dari problem tapi harus selalu dimulai dari people. Apa yang sebenernya orang butuhkan, atau apa yang membuat mereka susah. Memulai sesuai dari problem akan memberikan output yang klise, karena ada business needs didalamnya. Reframing adalah step untuk mencari tau informasi tentang masalah, merubah point of view dan memulai untuk prototyping. 

When you reach out to the world, the world reaches right back
Life design adalah journey yang sangat panjang. Namanya design pasti kadang bagus, kadang jelek. Definisi bagus dan jelek ini tergantung cara berfikir setiap orang. Disini bakalan banyak banget belajar bagaimana caranya untuk letting go and move on after failure. 

If it's not actionable, it's not a problem. Let's repeat them again.
Designer sering melakukan prototype  dalam merancang sebuah product. Buku ini memberikan ilmu baru tentang gravity problem. Yaitu masalah yang sebenernya bukan masalah tapi dijadikan masalah. HAHA ribet gak? Gravity problem adalah jenis masalah yang tidak bisa diselesaikan. Coba di cek lagi, yang selama ini bikin pusing diri sendiri apakah beneran problem atau hanya gravity problem saja? Kalau kata quote ala-ala pinterest, Stop the drama! Gravity problem adalah bentuk drama dalam hidup.

Don't make a doable problem into an anchor problem by wedding yourself irretrievably to a solution that just isn't working
Anchor problem adalah jenis masalah yang mau jungkir balik pasti tidak akan mendapatkan hasil atau pemecahan masalah sesuai yang kita mau. Kebanyakan stuck dalam hidup bisa disebabkan karena terlalu stuck di satu tujuan a.k.a harapan yang kayaknya udah kandas tapi tetep aja gak bisa letting go dengan baik. Disituasi ini kita harus belajar untuk reframe dari awal, dan mulai prototype kembali. Capek gak? Iya! baca buku ini emang capek guys, kayak kuliah system thinking yang dapet A kayaknya susah. HAHAHA. 

Why you should read this book?

Buku ini memberikan teori baru dalam dunia design. Saya bukan designer tapi kita semua adalah orang yang harus bisa mendesain hidup sendiri. Perspektif paling menarik dibuku ini adalah tentang workview dan lifeview. Bagaimana kita menemukan "it job" berdasarkan work and life view. 

Moreover, buku ini juga menjelaskan beberapa step yang sangat bisa menstukturkan pikiran sendiri untuk mengetahui our dream and passion. Banyak banget tugas-tugas yang harus dikerjakan HAHA bener-bener seperti kuliah. Amsyong!

Hal yang paling menarik yaitu banyak banget contoh life design yang sudah dipraktekkan oleh beberapa orang. Mulai dari pekerjaan, kesehatan, sampai proses merubah cara berfikir. Karena life design adalah journey dan menurut saya life design ini gak akan seru kalau dikerjakan sendiri. We need a group of people yang memiliki niat dan keingin yang sama untuk mendesain hidup yang lebih baik. If you are interested, we can share our idea,etc etc about this topic together. 


PS : Review buku berikutnya saya akan tulis as-soon-as-possible, haha permasalahan orang yang punya short term memory loss. Lupa part mana aja yang mau direview. Pelik.

PSS : I am still working on my life design projects too. 


Love,

Novella

No comments:

Post a comment

Instagram